Arang Kayu Ala Rimbawati Masih Digandrungi Pelanggan. Kopi Jos Juga Gunakan Arang Ini lho..

328 views

Gunungkidulpost.com – Patuk – Arang kayu dahulu jamak digunakan masyarakat sebagai bahan bakar untuk berbagai keperluan.

Saat ini, arang sudah semakin jarang dipakai karena tergusur oleh jenis bahan bakar fosil maupun gas dan briket.

Namun begitu, bukan berarti produksi arang secara tradisional itu lenyap seketika. Di Dusun Gumawang, Desa Putat masih bisa dijumpai sedikit warga yang memproduksi arang secara tradisional di pekarangan rumahnya.

Seperti yang dilakukan pasangan Sumari (59) dan Rimbawati (60). Sepasang suami istri ini sudah bertahun-tahun menekuni usaha pembuatan arang.

Saat ditemui, dirinya tengah sibuk memantik bara api untuk pembuatan arang. Kayu-kayu mentah tersusun sedemikian rupa di depannya.

Musim hujan begini, sedikit banyak membuat pekerjaannya terganggu karena kayu cenderung basah dan menyulitkan proses pembakaran. Asap hasil pembakaran pun jadi lebih tebal tercipta.

“Musim hujan prosesnya jadi lama. Rata-rata bikinnya tujuh hari jadi,” ucapnya.

Proses pembuatan arang yang dilakukannya terbilang sederhana dan sangat tradisional. Kayu-kayu mentah disusun sedemikian rupa dan berjarak rapat membentuk semacam bentuk kubus dengan celah sempit di bagian bawah.

Celah ini berfungsi sebagai tungku pembakaran utama untuk tempat api berkobar dan membakar kayu.

Durasi pembakaran yang cukup panjang mengharuskan api tetap menyala tanpa jeda. Untuk itu, di bagian samping kubus kayu, ia mengoleskan tanah liat dalam ketebalan tertentu dan tumpukan dedaunan di bagian atas.

Menurutnya, tanah liat akan membuat nyala api tetap terjaga stabil dan tak tertiup angin dari arah samping serta proses pembakaran yang sempurna. Sedangkan dedaunan selain berfungsi menahan cucuran air juga berfungsi untuk menjaga proses pembakaran tidak berlebihan sehingga kayu tidak terbakar habis dan menjadi arang yang bagus.

Kayu yang sering digunakannya sebagai bahan pembuatan arang adalah jenis-jenis kayu keras seperti mahoni, asem, rambutan, jati dan sonokeling. Kayu keras macam itu akan menghasilkan arang yang awet dipakai dan bernyala api cukup bagus.

Dalam sekali pembuatan, dirinya paling tidak membutuhkan sekubik kayu dan menghasilkan hingga 20 karung besar arang. Tiap karungnya dijual dengan harga Rp80 ribu-90 ribu kepada pengepul di wilayah Yogyakarta.

“Saya sudah 15 tahun lebih menekuni usaha ini dan banyak yang membutuhkan tetapi sebagian besar para pedagang dan pengrajin seperti penjual sate, minuman, kuliner, hingga perajin keris yang ada di Sleman,” jelas Rimbawati saat ditemui dirumahnya, Kamis (26/12/2019).

Bagi mereka, membuat arang sudah seperti menyambung hidup. Meski arang kayu kian dipinggirkan oleh gas dan minyak bumi, dirinya tetap tekun membakar arang untuk mengasapi dapur rumahnya.

Hingga kini arang hasil pembuatan Rimbawati menjadi pilihan para penjual kopi Jos yang ada di Yogyakarta.

Menurut informasi para penjual Kopi Jos, arang asal Desa Putat, Kecamatan Patuk ini tergolong arang yang bagus. Arang tersebut disajikan dalam seduan kopi panas yang dinamakan kopi jos asal Jogja. (red)

Related Post