Dua Warga Gunungkidul Diduga Terjangkit Antraks

448 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari –
Satu orang terduga terkena antraks di dusun Gombang, Kecamatan Ponjong saat ini masih mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.

Hal tersebut diketahui pada 28 Desember 2019 lalu ada hewan ternak yang mati mendadak dan dagingnya dikonsumsi oleh satu orang terduga terkena antraks.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan pihaknya mengintensifkan pemantauan oleh petugas puskesmas kepada warga sekitar selama 24 jam dalam kurun waktu 60 hari ke depan.

Hal itu bertujuan agar warga sekitar bisa terpantau secara cepat jika terjadi penularan virus antras.

“Kami lakukan pemantauan secara berkala dan siaga selama 24 jam penuh,” kata Dewi, Jumat (3/1/2020).

Namun, Dewi mengingatkan kepada masyarakat Gunungkidul tidak perlu resah atas kejadian tersebut. Sebab, pengobatan hanya perlu dilakukan penanganan dengan baik dan pemberian antibiotik saja.

Ia mengimbau masyarakat jika merasakan keluhan untuk segera melaporkan kepada petugas kesehatan di wilayahnya masing-masing.

“Masyarakat tak perlu resah, kalau ada keluhan silakan periksakan ke puskesmas, agar segera teratasi. Obatnya gampang hanya antibiotik saja,” kata dia.

Sebelumnya dua warga Gunungkidul dilarikan ke rumah sakit, diduga terjangkit virus antraks.

Keduanya merupakan warga Padukuhan Ngrejek Kulon dan Ngrejek Wetan Desa Gombang, Kecamatan Ponjong. Mereka dilarikan ke RSUD Wonosari pada Selasa (31/12/2019) pagi. Dugaan antraks menguat lantaran dalam kurun waktu tiga minggu terakhir, beberapa hewan di desa tersebut dikabarkan mati mendadak.

Otoritas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul membenarkan ada warga yang dilarikan ke RS lantaran diduga terjangkit antraks, Namun demikian saat ini pemerintah tengah menunggu hasil uji laboratorium sampel darah dua warga tersebut dari Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Bogor, Jawa Barat.

Dewi Irawaty mengungkapkan sampel darah dua warga Desa Gombang tersebut sudah diambil dan dikirim untuk uji lab.

“Kami belum bisa menyatakan positif atau negatif, karena untuk menentukan positif kami harus melalui hasil pemeriksaan darah yang sudah diambil dan dikirim ke BB Litvet Bogor,” kata Dewi.

Dewi menjelaskan setelah ada temuan warga yang diduga terjangkit virus yang ditularkan dari hewan tersebut, pihaknya langsung mengevakuasi korban untuk diberikan pengobatan dan perawatan secara intensif di rumah sakit.

Terpisah, salah satu Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta, Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto menegaskan agar perilaku masyarakat khususnya di Gunungkidul bisa berubah.

Contohnya, jika ada hewan sakit atau jangan dikonsumsi, jika ada hewan sakit jangan disembelih, sebab darahnya akan mudah terjangkit. Selain itu, lalu lintas pembelian hewan ternak oleh petani perlu diperhatikan dengan baik mulai dari mengecek kesehatan, lokasi pembelian dan pakan yang dikonsumsi hewan tersebut.

“Kalau ada sapi mati atau sakit tidak boleh dikonsumsi, kalau ada keluhan segera lapor, dan tentunya harus lebih diperhatikan soal lalu lintas hewan dan pengambilan pakan,” ujarnya.

Dr. drh. Soedarmanto berharap dengan adanya kasus ini, masyarakat lebih mendewasakan diri untuk mencegah dan mengevaluasi diri sehingga budaya menyembelih hewan yang mati mendadak tidak menjadi budaya lagi.

“Kami (UGM) bersama dengan dinas siap membantu untuk mensosialisasi maupun melakukan pendampingan kepada peternak,” tutupnya. (Yup)

Related Post