Duo Broto Berebut Kursi, Petahana Kembali Pimpin Umat Awam Katolik Paroki Wonosari

  • Share
Peserta pleno pemilihan DPPH Paroki Wonosari tengah menggunakan handphone untuk memilih pengurus masa bakti 2022-2024.

GunungkidulPost.com – WONOSARI – Duo Broto, berebut dukungan suara untuk posisi strategis Wakil Ketua II atau ketua awam katolik Paroki Petrus Kanisius Wonosari dalam Pemilihan Dewan Pastoral Paroki Harian (DPPH) dipersiapkan untuk masa pelayanan tahun 2022-2024.

Pemilu ala katolik berlangsung seru di Aula Ignasius Loyola Komplek Gereja Paroki Petrus Kanisius Wonosari, Jumat (24/9) malam hari yang diikuti perwakilan peserta jalur daring untuk wilayah luar Wonosari.

Matius Broto Sugondo, calon kandidat petahana akhirnya lolos memimpin umat katolik Wonosari lagi setelah meraih dukungan 101 suara mengalahkan rivalnya, FX Broto Murdopo yang hanya meraih 41 suara.

“Dengan selesainya Pemilihan DPPH ini berarti petahana akan kembali bertugas memimpin tata layanan paroki 2022-2024 nanti bersama para pengurus baru terpilih,” ujar sekretaris tim adhoc pemilu suara umat Paroki Wonosari, Monika Ervinamurti.

Ada sebanyak 142 pemilih menggunakan hak suara dari keseluruhan pemilih berjumlah 164 orang terdiri dari Ketua DPPH, perwakilan tokoh/sesepuh paroki, ketua lingkungan, ketua wilayah, perwakilan kelompok kategorial, perwailan organisasi masyarakat katolik, perwakilan sekolah katolik, perwakian biara, dan anggota tim pelayanan. Ada 22 pemilih tidak menggunakan hak suara untuk pertama kalinya pemilu dilaksanakaan secara elektronik karena faktor kendala geografis dan tidak stabilnya jaringan internet peserta pleno virtual disiarkan secara live streaming, ketidakmampuan perwakilan mengoperasikan sistem elektronik pemilu dan perangkat internet, kehabisan waktu, berhalangan hadir, dan memang tidak menggunakan hak pilih.

Ervina mengatakan, pada menit menentukan yakni pemungutan suara, bantuan _link_ yang dikirim melalui perangkat handphone peserta pleno virtual mengalami terkendala tidak dapat menggunakan peralatannya. “Tapi ada juga yang memang sudah pamit tidak bisa hadir mengikuti pleno jadi hak pilih tidak terwakili. Ada yang hadir tapi tidak gunakan haknya. Apapun itu sebuah pilihan yang harus tetap dihormati,” kata Ervina yang juga mantan wakil ketua ormas katolik WKRI Gunungkidul.

Ervina menambahkan, calon terpilih Matius Broto Sugondo memiliki latar belakang seorang PNS kepala sekolah SD Negeri yang lolos memimpin kedua kalinya. Adapun, FX Broto Murdopo yang tidak lain adalah ASN tak lain pembinanya di Dinas Pendidikan Gunungkidul. Sementara, ketua bidang terpilih juga menyingkirkan lawan-lawannya adalah ; Ch.Susilawati (ketua bidang pewartaan), Aloysius Primadi (ketua bidang liturgi), Benedectus Wibowo (Ketua Kerumahtanggaan), A Onik Kartikaningsih (Ketua Paguyuban), FX Pamenang Setyadarma (Ketua Litbang), dan FX Tri Guntoro (Ketua Pelayanan Masyarakat). Untuk sekretaris dan bendahara mekanisme mengatur tunjukan yakni hak veto romo paroki beserta DPPH terpilih.

Pelaksanaan pemilu ala Paroki Wonosari berbeda dengan lazimnya pemilihan biasa dijumpai. Mengacu pedoman teknis Keuskupan Agung Semarang proses pemilihan dimulai dari tahap penjaringan calon nominator secara musywarah di tingkat lingkungan, atau teritori terbawah dalam gereja katolik. Tahap ini menjaringan 17 nama sebagai nominator untuk calon wakil ketua awam katolik, dan enam ketua bidang, meliputi ; ketua bidang pewartaan, liturgi, paguyuban, kerumahtanggan, litbang, dan pelayanan kemasyarakatan. Adapun untuk Ketua dan ketua I merupakan _exoficio_ oleh pastor/romo yang ditugaskan uskup KAS di Wonosari.

Ada yang unik lainnya dari pemilu ala umat katolik Wonosari ini yakni, peran dan sikap keluarga bagi kelangsungan para nominator ditetapkan, selain syarat lain telah menerima minimal tiga sakramen gereja katolik. Setiap nominator juga harus hasil usulan dari musyawarah sebanyak 58 lingkungan Paroki Wonosari yang wajib melengkapi surat izin keluarga. Apabila nominator seorang suami harus mendapat persetujuan istri dan anak-anak, jika nominator seorang istri harus mendapat persetujuan dari suami dan anak-anaknya, sedanhkan nomunator yang belum berkeluarga pun mendapat izin tertulis keluarga sebagai persyaratan wajib yang mengikat. Tak heran, ada calon nominator yang mundur karena ketatnya persyaratan membuat panita harus kerja ektra mencari nominator lain yang ada dalam hasil perangkingan.

“Ya karena pengurus ini nanti akan bekerja tidak mendapat gaji. Murni pelayanan Tuhan. Dan waktu keluarga pasti terbagi dengan pelayanan di gereja itu nanti. Jadi keluarga memang harus mendukung,” pungkas Helga Selyn anggota Adhoc mewakili kalangan orang muda katolik.

Romo Paroki Wonosari, Nobertus Sukarno Siwi Pr menyambut baik hasil pemilihan yang berlangsung lancar dengan antusias dan partisipasi umat cukup menggembirakan di tengah PPKM. Calon terpilih aka diwajibkan mengikuti pembekalan sehingga masuk 2022 sudah tancap gas.

“Selamat. Mari bekerja untuk kemuliaan Allah,” ujar Romo Siwi. (Go)

  • Share