Hingga Awal Tahun 2019, Gizi Buruk Masih Jadi PR Utama

326 views
 

Gunungkidulpost.com – Wonosari –
Permasalahan gizi masih menjadi pekerjaan rumah Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul.

Berbagai upayapun dilakukan untuk menekan masalah malnutrisi.
Trend malnutrisi dinilai mengalami penurunan pada 2017 ke 2018. Gizi buruk dari 205, menjadi 160. Kemudian gizi kurang dari 2.130 menjadi 2.122 dan gizi lebih dari 827 menjadi 761.

“Masalah gizi buruk sama-sama berbahaya. Dan ada beberapa faktor yang memicu gizi buruk antara lain, premature, kemudian penyakit penyerta atau perilaku orangtua yang kurang perhatian,” kata Sekretaris Dinkes Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka, Selasa (1/1/2018) kemarin.

Menurut Priyanta sangat minim di Gunungkidul bahkan cenderung tidak ada. Dikatakannya untuk masalah kecukupan makan tidak ada masalah menurutnya, hanya saja untuk makan sayur dan buah dirasanya kurang maksimal.

Sementara untuk gizi lebih dikatakan Priyanta dapat memicu sejumlah penyakit, seperti obesitas, hipertensi, dan jantung. Penyebab gizi lebih sendiri dikatakannya lebih pada pola perilaku yang memberi makan sembarang, tidak memperhatikan keseimbangan gizi.

Berbagai upayapun coba dilakukan oleh Dinkes Gunungkidul untuk menekan angka permasalahan gizi ini. Diantaranya mendorong masyarakat untuk rutin memantau pertumbuhan anak, kemudian pemberian makan tambahan untuk yang mengalami gizi kurang.

“Kami juga terus menggalakan Germas [Gerakan Masyarakat Sehat],” paparnya.

Sementara itu, salah seorang kader perempuan dan anak, dari Kecamatan Semanu, Ismi mengatakan pendekatan dengan ibu yang memiliki anak kecil agar memberikan perhatian dan asupan gizi yang memadahi. Sehingga hal itu disinyalir akan menekan angka gizi buruk.

“Menambah asupan gizi yang baik akan menekan terjadinya gizi buruk,” ucapnya. (G1)

 

Related Post