HIV Di Gunungkidul Mencapai 253 Orang

839 views
 

Foto: Ilustrasi. Net


Gunungkidulpost.com – Wonosari – Tahun 2016 lalu terdapat 253 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV)-Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang menjangkit warga Gunungkidul. Dari ratusan warga tersebut diketahui sebagian besar terinveksi saat pergi merantau.

Sekretaris Komisi Perlindungan AIDS (KPA) Gunungkidul, Iswandi mengatakan, dari sejumlah data yang dia miliki terdapat 253 kasus HIV/AIDS sepanjang 2016. Fakta yang dia peroleh dari ratusan kasus tersebut, sebagian besar terinveksi virus yang menyerang kekebalan tubuh saat berada di daerah perantauan.

“Mereka kebanyakan baru pulang dari perantauan. Pulang menetap sebentar di Gunungkidul kemudian divonis terinveksi HIV/AIDS setelah dilakukan pemeriksaan,” katanya, Jumat (31/3/2017).

Iswandi menduga aktivitas diperantauan yang terlalu bebas membuat mereka rentan terjangkit HIV/AIDS. Terlebih mereka yang sampai menggunkan narkoba, Sebab meski tidak melakukan pergaulan bebas, mereka bisa terjangkit memalui jarum suntik yang digunakan. Dan saat ini penderita AIDS lebih tinggi ketimbang penderita HIV. “Data kasus HIV/AIDS divalidasi setiap tiga bulan sekali. Bukti terakhir yang kami miliki terdapat 253 warga positif terjangkit virus HIV/AIDS diantaranya, penderita AIDS berjumlah 187 orang,” ungkapnya.

Fakta ini mengalami peningkatan dibanding 2015. Di Tahun itu terdapat 214 warga Gunungkidul yang terjangkit HIV/ AIDS. Dengan rincian untuk penderita HIV laki-laki sebanyak 45 orang, perempuan 37 orang. Sementara untuk AIDS laki-laki 73 orang dan perempuan 59 orang.

Iswandi menjelaskan, sebagian besar dari jumlah tersebut diderita warga berusia 20-59 tahun. Jumlah penderita HIV/AIDS itu didapatkan dari hasil pemeriksaan darah di rumah sakit. Menurutnya, orang yang sering menggunakan jasa PSK atau melakukan hubungan tanpa alat kontrasepsi sangat rentan terserang penyakit mematikan tersebut.
“Jika sudah positif, mereka diberi obat. Fungsi obat sendiri bukan untuk menyembuhkan, namun menekan virus sehingga kekebalan tubuh penderita tidak lemah,” ujarnya.

Sementara itu, Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUD Wonosari Aris Suryanto mengaku sudah memiliki Voluntary Counseling Test (VCT). Selama ini tidak sedikit warga yang melakukan konsultasi untuk mengetahui apakah dirinya terkena virus berbahaya. “Ada ratusan orang yang telah melakukan pemeriksaan,” ungkapnya.

Setiap hari, lanjut Aris, jumlah pasien yang melakukan pemeriksaan rutin mencapai 45 orang. Pasien diberikan obat Antriretoviral (AVR) untuk menghambat perkembangan penyakit dan pengobatan itu sendiri hanya untuk menghambat. “Solusi terbaiknya adalah tidak melakukan hubungan seks bebas, dan menggunakan jarum suntik sembarangan,” ujarnya. (Heri)

 

Related Post