Kisah Bos Nela Roti, Ikut Majikan Tidak Dibayar Sampai Sukses Kebanjiran Orderan

475 views
 

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Berawal dari coba-coba, usaha kue milik Daryati (43) warga Desa Wareng, Kecamatan Wonosari kini mulai berkembang.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi hingga ribuan kue dan omzet per bulan mencapai Rp 40 juta.

Usaha yang dirintisnya dimulai pada tahun 1998. Awalnya, dia cuma bekerja ikut majikan di Wonosari. Kala itu, selama sebulan ia hanya digaji sebesar Rp 60 ribu. Bahkan selama dua bulan ia harus gigit jari lantaran tenaga yang ia pertaruhkan tiap hari bekerja dirumah majikan tidak mendapatkan hasil apapun alias tidak digaji.

Namun setelah mengetahui bahwa selama dua bulan tidak memperoleh gaji ia memutuskan untuk keluar dan berhenti bekerja ditempat majikannya. Ia mencoba merintis usaha sendiri mukai tahun 1998. Berbekal alat seadanya, Daryati tak segan-segan mencoba membuat kue dirumahnya.

Kue bikinannya dia jual dengan cara berkeliling dari rumah ke rumah warga desa dengan cara berjalan kali belasan kilometer. Setelah beberapa lama usaha yang ia tekuni membuahkan hasil, satu dua orang mengorder kue buatan Daryati.

“Berawal saya ikut orang dua bulan tidak mendapatkan gaji akhirnya saya mencoba merintis usaha dari rumah dan menawarkan ke tetangga hingga warga seputar desa Wareng. Kue pertama yang kami bikin yaitu kue bolu,” katanya saat ditemui Gunungkidulpost.com dirumahnya, Selasa (20/11/2018).

Beberapa tahun berselang, usaha milik Daryati mulai bergairah. Dia beserta suami memutar otak untuk menyajikan kue-kue jenis baru. Saat ini, ada 7 macam kue yang mereka buat dengan jumlah produksi setiap hari mencapai ribuan jenis kue. Angka itu bisa saja bertambah jika ada pesanan khusus.

Pembuatan kue itu ia lakukan setiap saat mulai pagi siang hingga larut malam di rumahnya. Ada 12 pekerja yang bertugas mengolah berbagai jenis kue tersebut.

“Tergantung orderan biasanya empat pekerja hingga dua belas pekerja yang membantu mengerjakan kue ini,” ucap dia.

Menurut Daryati, usaha kue yang ia tekuni dibandrol mulai dari harga Rp 13 ribu hingga Rp 50 ribu per kue.

“Dulu omsetnya satu bulan satu orderan masih sepi. Namun sekarang sekitar Rp 35 – Rp 40 juta per bulan,” paparnya. (Bayu)

 

Related Post