Program Kabupaten Layak Anak Belum Berjalan Sesuai Harapan

250 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Kabupaten Gunungkidul telah dinobatkan sebagai kabupaten/kota layak anak. Namun selama ini program terkait anak dan perempuan dinilai masih belum berjalan dengan mulus.

Pasalnya, keterbatasan anggaran menjadi faktor utama habatan yang dihadapi Pemkab untuk menyukseskan sebagai kabupaten layak anak.

Hal itu seperti yang diungkapkan oleh, Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi dalam menanggapi tim evaluasi kabupaten/kota layak anak, di Bangsal Sewoko Projo, Minggu (10/6/2018).

“Program seperti ini seperti kabupaten layak anak, penanggulangan narkoba, dan bunuh diri masih dianggap sebagai program tambahan, sehingga tidak terpikirkan penganggarannya. Saya pikir pemerintah dipusat sudah baik soal penganggaran untuk program-program seperti ini tetapi ternyata tidak, baik itu di pusat maupun provinsi masih kurang,” kata Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi.

Immawan berharap, saat ini Presiden Joko Widodo telah membuat kebijakan berupa anggaran hendaknya mengikuti prioritas program, sehingga dengan kebijakan itu penangan anak, narkoba, seharusnya menjadi prioritas pemerintah.

“Mengapa anggarannya belum ada karena belum dianggap sebagai program prioritas,” tambahnya.

Sementara itu, Debuti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bidang tumbuh kembang anak Lenny N Rosalin menuturkan untuk anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk permasalahan anak sudah termasuk besar.

“Saya pikir anggaran yang diberikan melalui APBN sudah cukup tinggi, seperti 20 persen anggaran APBN untuk pendidikan yang jelas bersangkutan dengan anak, dana kesehatan anak ada, kominfo memblokir situs-situs porno, juga berkontribusi untuk membangun anak,” tuturnya.

Lenny menambahkan agar kabupaten/kota untuk mengurangi bahkan melarang perkawinan anak, karena perkawinan anak akan menimbulkan efek berantai mulai menurunnya angka partisipasi sekolah, maraknya balita kekurangan gizi, serta dapat mengakibatkan kemiskinan.

“Jika anak banyak yang nikah muda maka si anak akan drop out dari sekolah. Dengan begitu akan menurunkan angka partisipasi sekolah,” tandasnya.

Dia berharap, pada tahun 2021 mendatang Kabupaten Gunungkidul mampu mewujudkan dan memproritaskan program unggulan yakni menyangkut kelayakan anak.

“Kami harap waktu dua tahun ini bisa dimanfaatkan sebagai proses untuk meningkatkan program yang berkaitan dengan anak untuk hidup lebih layak,” pungkasnya. (Bayu)

Related Post