Sidang Dugaan Jabret Berakhir, Sup Divonis Jadi Penadah

582 views
 

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Setelah melalui rangkaian persidangan, Sup (34), warga Banaran, Playen divonis penjara 10 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Wonosari, Rabu (13/11/2019).

Sup merupakan terdakwa kasus penjambretan yang terjadi pada tanggal 1 Juni 2019 pukul 20.00 WIB, dijalan Getas-Playen. Dan dikenai pasal hukum 365 KUHP yaitu pencurian kekerasan (curas), junto 480 sebagai penadah.

Dalam sidang putusan tersebut terdakwa Sup tidak terbukti sebagai penjambret dan dikenakan pasal 480 sebagai penadah karena terbukti membeli barang hasil kejahatan.

Menurut Kuasa Hukum terdakwa dari Kantor Lembaga Hukum AFC, Albertus Iswadi, didampungi M.Choirul Huda, Fiqrila Al Wahid Suprapto, dan Rudi Prasetyo mengatakan keputusan Majelis Hakim mengenakan pasal 480 sebagai penadah dan divonis 10 bulan penjara dipotong masa tahanan 4 bulan.

“Terdakwa dinyatakan tidak terbukti sebagai penjambret seperti yang dituduhkan sebelumnya,” ujarnya.

Albertus Iswandi, berharap pihak kepolisian dan penyidik lebih berhati-hati dalam menindak dan mengenakan pasal dalam kasus apapun.

“Catatan untuk kepolisian dalam mengungkap peristiwa, mengenakan pasal, memperlakukan tersangka harus hati-hati.
Apalagi sekarang eranya Kepolisian juga bermain media sosial. Kalau dulu Sup. dipampang di websitenya dengan memberikan keterangan Sup. sebagai tersangka penjamret, tapi sekarang terbukti dalam keputusan Pengadilan menyatakan bahawa Sub. bukan sebagai penjambret. Ini agar dapat menjadi pelajaran.” ujar Iswandi.

Lanjut Albertus Iswadi, Tanggung jawab institusi Kepolisian Gunungkidul harus ditegakkan, harus bijak bermedia sebelum ada keputusan hukum yang syah.

“Jangan latah dalam bermedia, bila kenyataannya terdakwa terbukti bukan penjambret kami dirugikan dengan pernyataan tersebut.” katanya.

Sementara itu, Pendamping Kuasa hukum Rudi Prastyo, mengatakan pihak terdakwa Sup. menyatakan menerima atas putusan Majelis Hakim.

“Terdakwa menerima vonis hukuman 10 bulan. Dirinya terbebas dari tuduhan penjambret karena tidak terindikasi melakukan kejahatan tersebut,” ungkapnya.

Istri terdakwa, Desi Liasari, merasa bersyukur karena sang suami tidak terbukti dan dinyataka bukan sebagai penjambret.

“Meskipun berat divonis 10 bulan karena dikenakan pasal sebagai penadah, dengan membeli HP hasil kejahatan walaupun itu tidak tahu bahwa barang tersebut hasil dari kejahatan. Tapi setidaknya saya cukup lega suami saya terbukti bukan penjambret dan kami juga korban.” terangnya.

Desi berharap agar kasus serupa tidak terjadi lagi, dan dapat menjadi pembelajaran bagi semua.

“Semoga tidak ada lagi kasus seperti ini, dan semua orang perlu berhati-hati jika membeli suatu barang,” pungkasnya. (Falentina)

 

Related Post