Sidang Perdata Tuntutan Ganti Rugi Berakhir, Hakim Tolak Tuntutan Andreas

489 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari –
Putusan sidang gugatan perdata kasus wanprestasi serta tuntutan ganti rugi yang melibatkan pihak penggugat Andreas Budisusetia warga Gowongan Jetis Yogyakarta, serta pihak tergugat Bontje Adrian Johan warga Purwosari digelar di Pengadilan Negeri (PN) Wonosari, Rabu (28/8/2019).

Pembacaan sidang putusan yang seharusnya digelar pada Kamis (22/8/2019) lalu sempat tertunda dikarenakan salah satu hakim anggota berhalangan hadir lantaran tugas kedinasan.

Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Yohanes Fransiscus Tri Joko Gantar Pamungkas SH yang membacakan putusan perdata kasus tersebut. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Wonosari akhirnya memutuskan tidak dapat menerima tuntutan kasus wanprstasi dan ganti rugi yang dilayangkan oleh Andreas Budisusetia kepada Bontje Andrian.

Sementara itu Kuasa hukum Bontje Adrian, Taufiqurrahman SH mengaku sangat bersyukur Majelis Hakim memberikan putusan tidak dapat menerima tuntutan kasus tersebut.

“Kami sangat bersyukur karena sidang putusan sesuai dengan apa yang diharapkan, walaupun sebenarnya memgharap keputusan menyentuh pada pokok perkara. Tapi kami tetap menghormati keputusan tersebut.” ungkapnya.

Taufiqurrahman menjelaskan kasus tersebut sangat mengada-ada. Memang tergugat pernah ada komitmen terhadap penggugat, dimana tergugat pernah meminta menjualkan saham dan menjanjikan akan memberikan fee sebesar Rp 300 juta apabila berhasil menjual. Tetapi saham tersebut tidak berhasil dijual, dalam artian penggugat tidak dapat menghadirkan pembeli/investor. Jadi tidak ada kewajiban bagi tergugat.

“Gugatan tersebut sangat mengada-ada dan tidak memiliki bukti legalstanding.” katanya.

Dirinya berharap supaya gugatan seperti kasus tersebut tidak masuk dipengadilan harus melalui proses saring terlebih dahulu sebelum ada peradilan.

“Kami harap supaya bentuk gugatan seperti kasus ini dapat disaring terlebih dahulu.” pintanya.

Sementara itu pihak tergugat, Bontje Adrian mengatakan kasus tersebut sudah 7 tahun yang lalu, dan baru sekarang muncul.

“Sebenarnya kasus peradilan ini sudah 7 tahun yang lalu dan tiba-tiba muncul. Seharusnya kasus seperti ini tidak perlu muncul dipengadilan, ini hanya ingin mencemarkan nama baik saya.” tindasnya.

Perlu diketahui Kasus gugatan perdata ini bermula sekitar tahun 2011 saat Budisusetia bertemu dengan Bontje untuk membahas masalah investor Hotel Queen of The South. Dalam dasar gugatannya Budisusetia menyebut saat itu ia ditunjuk oleh Bontje yang merupakan pemilik Queen of The South untuk membantu mencarikan investor hotel yang terletak di Purwosari Gunungkidul tersebut.

Dalam perkembangannya Bontje mengalami kesulitan keuangan sehingga Budisusetia dilibatkan membantu mencarikan investor.

Setelah hotel terjual, Budisusetia dijanjikan Bontje saham sebesar 1% atau senilai jasanya yang telah dilakukan selama ini yakni sebesar Rp 300.000.000, namun Bontje dianggap ingkar dan tak memberikan uang seperti yang dijanjikan itu. Karena tindakan wanprestasi tersebut maka Budisusetia menggugat mitra kerjanya tersebut baik secara materiil maupun immateriil sebesar Rp 13.900.000.000. Akan tetapi Majelis Hakim memberikan putusan tidak dapat menerima tuntutan kasus tersebut. (Falentina)

Related Post