Ternyata Ingkung Jadi Sarana Persatuan Dan Kesatuan

133 views
 

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Ingkung (ayam Jawa yang dimasak) tak hanya jadi makanan dengan tampilan yang menggugah.

Makanan yang selalu ada dalam acara-acara besar, seperti selamatan atau syukuran (khususnya di Jawa) ini penuh dengan makna dan filosofi yang begitu indah.

Namun ingkung bahkan jadi sarana komunikasi antara manusia dengan sang pencipta, atau manusia dengan sesamanya.

Dirumah budaya Jati Semi, Kecamatan Semin, Ingkung menjadi menu utama para pengunjung untuk memanjakan lidah ditempat tersebut. Selain memiliki cita rasa yang enak, Ingkung diyakini mampu mempersatukan persatuan dan kesatuan bangsa melalui jamuan makan bareng (kembul dahar).

Hal itu seperti pengakuan Sulistyanta Bayu Pratama saat menghadiri acara Gunungkidul Bisa Apa, Minggu (8/12/2019) malam.

Menurut dia, Jati Semi merupakan rumah budaya yang dikonsep dengan kunliner yang memiliki nilai budaya tinggi.

“Rumah Budaya Jati Semi ini konsepnya rumah makan ndeso yang menyajikan Ingkung dan nasi gurih sebagai menu utama dimana Ingkung Jawa ini memiliki unsur sejarah budaya yang memiliki nilai tinggi karena memiliki alat diplomasi kabudayaan. Ini lho Ingkung dan nasi gurih merupakan bagian dari sejarah,” ungkapnya.

Bayu menuturkan, ingkung merupakan karya nenek moyang yang harus dimaknai secara filosofinya.

“Kita milih ayamnya harus berjalu dan dari sisi usia sudah tua. Rujukannya pada kaidah kebudayaan seperti cara masaknya didapur membangun kaidah tradisi suasana yang benar-benar kondusif sehingga menciptakan hasil karya masak yang enak,” tuturnya.

“Sebelum disajikan, ada budaya dipersembahkan terlebih dahulu. Misalnya yang pesan ada ujup apa gitu kita doakan dan kita persembahkan sehingga menambah berkah saat dinikmati dan sekaligus belajar memaknai, mengenal, mencintai, dan merawat dalam kehidupan,” paparnya.

Bayu menambahkan, Jati Semi Rumah Budaya telah berjalan kurang lebih 4 tahun silam. Ia berharap kedepan bahwa pengunjung tak hanya sebatas menikmati namun juga belajar budaya melalui makanan.

“Kegiatan tidak mudah sehingga bagaiman kemudian kedepan bisa melakukan mandiri dan berkembang. Dan perlu adanya pendidikan kebudayaan saat berkunjung ke sini,” ujarnya.

Dari ungkapan tersebut, mampu menarik perhatian kedua Inisiator Gunungkidul Bisa Apa, Daniel dan Cahyo Prabowo. Dengan mengupas rumah budaya tersebut ia menjadi lebih tau tentang makna Ingkung dan nasi gurih dalam filosofi sejarah budaya.

“Ternyata proses pengerjaannya Ingkung dan nasi gurih ini memiliki unsur keberagaman budaya dan agama yang saling berkesinambungan, dan tentunya luar biasa membangun kerukunan,” tutupnya. (Yup)

 

Related Post