Wali Murid Keluhkan Lamanya Belajar Dirumah Bikin Jengkel

  • Share
Pelajar SD Belajar Dirumah. (Foto: Gkpost)
Pelajar SD Belajar Dirumah. (Foto: Gkpost)

Gunungkidulpost.com – WONOSARI – Memasuki awal tahun ajaran baru sejumlah orang tua menyatakan khawatir dengan perkembangan akademik para siswa setelah diterapkannya pendidikan jarak jauh (PJJ) untuk menekan penularan Covid-19.

Mereka mengatakan, keterbatasan fasilitas pendukung hingga ketidaksiapan siswa belajar di rumah, membuat sistem itu “belum efektif”- keadaan yang mengakibatkan capaian akademik siswa “tertinggal”.

Ada orang tua siswa yang berharap anaknya segera kembali ke sekolah.

Sementara, pemerintah meminta pihak terkait memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mengoptimalkan PJJ.

Antok salah seorang wali murid di Wonosari menceritakan apa yang diamatinya.

“Berantakan [cara belajarnya]. Ya [anak] berpikirnya main saja. Yang jelas, anaknya nggak siap untuk belajar di rumah,” ujarnya.

“Kalau disuruh mengerjakan yang jawab malah ibunya dan cenderung tak berkonsentrasi,” ujarnya.

Antok mengatakan tak masalah jika anaknya kembali bersekolah, asal protokol jaga jarak aman bisa dijalankan.

“Lha wong pasar aja sudah ramai, tempat ibadah juga ramai, apalagi tempat wisata. Tapi kenapa sekolah yang menjadi tempat menimba ilmu malah tetap ditutup, alangkah baiknya berimbang donk, semua tutup ya tempat lain tutup begitu sebaliknya,” tandasnya dengan nada kesal.

Sikap orang tua murid lain, Wibowo menuturkan, pihaknya menyayangkan pemerintah yang seakan tebang pilih.

“Kenapa tempat umum lainnya sudah ramai, tapi sekolah masih saja ditutup,” ucapnya.

Ia mengatakan juga tak keberatan jika anaknya yang masih dibangku sekolah dasar kembali kesekolah. Hal itu lantaran pembelajaran secara on-line tak berdampak baik untuk kemajuan pendidikan.

“Kalau anak saya kurang konsentrasi dan cenderung hanya bermain-main, lebih baik belajar diruangan kelas akan lebih menghasilkan hasil yang memuaskan,” imbuhnya.

Dia menilai, belum lagi fasilitas internet menjadi kendala utama bagi warga yang berada dipinggiran. Dirinya berharap, dinas terkait segera mengevaluasi ulang sistem pembelajaran memasuki era new normal ini.

“Ada saudara saya juga yang bertempat tinggal di Ponjong sinyalnya sulit karena letaknya memang berada dikawasan blank spot. Kasian kan mereka, kami harap ada kebijakan yabg lebih baik untuk pendidikan di Kabupaten Gunungkidul,” pungkasnya. (tnt)

  • Share
Exit mobile version